Home » » Revolusi Mental

Revolusi Mental

Posted by Nugroho Pangestu on Kamis, 19 Januari 2017


8 Prinsip Revolusi Mental :
  1. Revolusi Mental adalah gerakan sosial untuk bersama-sama menuju Indonesia yang lebih baik.
  2. Harus didukung oleh tekad politik (political will) Pemerintah
  3. Harus bersifat lintas sektoral.
  4. Kolaborasi masyarakat, sektor privat, akademisi dan pemerintah.
  5. Dilakukan dengan program “gempuran nilai” (value attack) untuk senantiasa mengingatkan masyarakat terhadap nilai-nilai strategis dalam setiap ruang publik.
  6. Desain program harus mudah dilaksanakan (user friendly), menyenangkan (popular) bagi seluruh segmen masyarakat.
  7. Nilai-nilai yang dikembangkan terutama ditujukan untuk mengatur moralitas publik (sosial) bukan moralitas privat (individual).
  8. Dapat diukur dampaknya dan dirasakan manfaatnya oleh warga masyarakat.

Mengapa Perlu Revolusi Mental?

Hasil-hasil survei internasional sering menunjukkan bahwa dalam hal yang baik, angka untuk Indonesia cenderung rendah, tetapi dalam hal yang buruk cenderung tinggi. Contoh, data Tranparency International menunjukkan persepsi tentang tingkat korupsi di sektor publik, dari 177 negara dan dengan 177 skor, Indonesia berada di rangking 114 dengan skor 32. Ini di bawah Ethiopia yang berada pada posisi 111.

Masyarakat Indonesia sendiri merasa resah melihat perilaku, sikap serta mentalitas kita yang saling serobot di jalan raya, tak mau antre, kurang penghargaan terhadap orang lain. Serangkaian FGD (kelompok diskusi terfokus)  di Jakarta, Aceh, dan Papua yang dilakukan oleh Kelompok Kerja Revolusi Mental Rumah Transisi juga menggambarkan keresahan masyarakat tentang karakter kita sebagai bangsa.

FGD ini melibatkan 300 orang budayawan, seniman, perempuan, netizen, kaum muda,  pengusaha, birokrat, tokoh agama/adat, akademisi dan LSM.

Kesimpulan yang didapat adalah kita memang butuh mengubah mentalitas secara revolusioner karena adanya gejala :
1.      krisis nilai dan karakter
2.      krisis pemerintahan: pemerintah ada tapi tidak hadir, masyarakat menjadi obyek pembangunan
3.      krisis relasi sosial : gejala intoleransi.

Keresahan masyarakat kita ini harus dijawab dan diberikan solusi sebelum berjalan lebih jauh lagi. Bila sejak merdeka kita sibuk dengan pembangunan fisik, maka saatnya kita bangun pula mental kita. Pembangunan ini akan kita lakukan dengan berbagai gerakan bersama, kolaborasi antara masyarakat dan swasta yang didukung oleh pemerintah. Perubahan dimulai saat ini dan berawal dari diri sendiri, dilakukan bersama untuk Indonesia yang lebih baik.

Gerakan revolusi mental semakin relevan bagi bangsa Indonesia yang saat ini tengah menghadapi tiga problem pokok bangsa yaitu; merosotnya wibawa negara, merebaknya intoleransi, dan terakhir melemahnya sendi-sendi perekonomian nasional.

Dalam kehidupan sehari-hari, praktek revolusi mental adalah menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong. Para pemimpin dan aparat negara akan jadi pelopor untuk menggerakkan revolusi mental, dimulai dari masing-masing Kementerian/Lembaga (K/L). Sebagai pelopor gerakan revolusi mental, pemerintah lewat K/L harus melakukan tiga hal utama yaitu; bersinergi, membangun manajemen isu, dan terakhir penguatan kapasitas aparat negara.

Gerakan revolusi mental terbukti berdampak positif terhadap kinerja pemerintahan Jokowi. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ada banyak prestasi yang diraih berkat semangat integritas, kerja keras, dan gotong royong dari aparat negara dan juga masyarakat.

Pemberantasan ilegal fishing, pengelolaan BBM lebih bersih dan transparan, pembangunan pembangkit listrik terbesar di Asia Tenggara, pembangunan tol trans Jawa, trans Sumatera, dan Kalimantan, adalah sedikit hasil dari kerja keras pemerintah Presiden Jokowi. Ke depan, gerakan revolusi mental akan semakin digalakkan agar sembilan agenda prioritas pemerintah yang tertuang dalam Nawa Cita bisa terwujud.

Revolusi Mental adalah transformasi etos, yaitu perubahan mendasar dalam mentalitas, cara berpikir, cara merasa dan cara mempercayai, yang semuanya menjelma dalam perilaku dan tindakan sehari-hari. Etos ini menyangkut semua bidang kehidupan mulai dari ekonomi, politik, sains-teknologi, seni, agama, dsb. Begitu rupa, sehingga mentalitas bangsa (yang terungkap dalam praktik/kebiasaan sehari-hari) lambat-laun berubah. Pengorganisasian, rumusan kebijakan dan pengambilan keputusan diarahkan untuk proses transformasi itu sebagaimana demokrasi sebagai suatu proses transformasi mental secara terus-menerus dengan bertumpu pada penghargaan terhadap persamaan hak, pluralisme, serta kebebasan menyampaikan aspirasi. Melihat latar belakang demikian jelaslah bahwa konsep revolusi mental merupakan gerakan moral untuk memperbaiki kehidupan berbangsa berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Revolusi mental dalam artian yang mendasar untuk bangsa ini adalah kembali pada pembangunan karakter bangsa, yang mana pada saat ini banyak sekali mental-mental aparatur bangsa dan masyarakat yang sangat jauh dari jiwa pancasila dan undang-undang, dan dapat kita lihat saat ini bahwa bangsa Indonesia harus kembali pada jati diri yang dulu pernah jaya dimata dunia. Bangsa yang bermartabat, gemah ripah loh jinawi, bangsa yang memiliki ciri khas tersendiri dari bangsa lainnya. Jika jokowi mengungkapkan revolusi mental menjadi salah satu solusi untuk membangun bangsa ini, artinya dengan revolusi mental bangsa Indonesia mampu kembali pada puncak kejayaannya, sesuai dengan harapan bersama, revolusi mental dalam pendidikan, ekonomi, hukum keagamaan, akan menjadikan manusia kembali kepada hakikat yang sebenarnya yang kemudian ini kembali pada karakter bangsa yang telah terlahir di setiap masing-masing masyarakat Indonesia.

Dengan demikian Reolusi mental yang menjadi salah satu senjata Pemimpin bangsa ini untuk membangun negeri merupakan suatu usaha yang tepat yang tentunya harus disadari seluruh lapisan masyarakat Indonesia, bahwasanya dengan revolusi mental dengan jiwa individu, jiwa perorangan manusia Indonesia untuk membangun dan membentuk mental individu pada segala bidang yang ada mampu mengembalikan jati diri bangsa menjadi bangsa yang berkarakter, bangsa yang bermartabat dan bangsa yang jaya.

SHARE :
CB Blogger

Poskan Komentar

Nugroho Pangestu . Diberdayakan oleh Blogger.
 
Copyright © 2013-2017 Nugroho Pangestu. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website | CB Blogger | Nugroho Pangestu